Perkembangan pendidikan matematika
Pendidikan
setiap bangsa mesti memiliki ideologi, yaitu keyakinan, nilai, cita-cita, visi,
dan metode untuk meraihnya yang setia memajukan bangsa dan negaranya. Dengan
demikian, sebuah proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan dan
mendorong siswa agar membuat persiapan untuk menjawab pertanyaan ketika musim
ulangan dan ujian tiba. Ada empat domain
pokok yang mesti dipahami dan menjadi acuan dalam setiap proses pendidikan di
Indonesia, yaitu agar setiap siswa mengenal dan memahami potensi dirinya
sehingga merasa mantap nantinya ketika memilih satu jurusan yang sesuai dengan
bakat dan minatnya.Kedua, mengenal karakter dan potensi daerahnya yang
potensial untuk dipelihara dan dikembangkan. Ketiga,memahami sejarah dan jati
diri bangsanya untuk dijaga kehormatannya dan dimakmurkan rakyatnya.Keempat,
guru dan siswa juga perlu memiliki wawasan regional-global meskipun sekilas
mengenai apa yang tengah dan akan terjadi pada tingkat internasional. Keempat
domain itu sangat penting dimiliki oleh setiap siswa karena nantinya mereka
akan menerima estafet kepemimpinan dan kepemilikan bangsa ini. Tapi
disayangkan, suasana batin pendidikan sekarang ini lebih banyak diributkan oleh
hal-hal administratif dan heboh ujian nasional yang materinya sangat
kognitif.Dimana Matematika
selalu menjadi momok bagi siswa, itu
sudah tidak diragukan lagi. Matematika menjadi penyebab utama ketaklulusan
siswa SMA jurusan IPA maupun IPS. Namun disadari matematika tidak akan mungkin
hilang, karena sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita agar lebih baik. Suka atau
tidak suka seseorang terhadap matematika, namun tidak dapat dihindari bahwa
hidupnya akan senantiasa bertemu dengan matematika, entah itu dalam
pembelajaran formal, non formal maupun dalam kehidupan praktis sehari-hari.
Matematika merupakan alat bantu kehidupan dan pelayan bagi ilmu-ilmu yang lain,
seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, teknik, ekonomi, farmasi maupun
matematika sendiri.
Mungkin
diantara kita banyak yang bertanya bukankah saat ini sudah ada kalkulator dan
komputer sehingga matematika sebagai alat bantu kehidupan menjadi berkurang?
Memang benar, dengan kehadiran kedua alat tersebut banyak persoalan kehidupan
yang awalnya mudah menjadi sulit, dan dapat diselesaikan dalam waktu yang
relatif singkat. Namun perlu diketahui bahwa alat-alat tersebut pun juga
menggunakan prinsip matematika. Tanpa adanya prinsip-prinsip dan konsep
matematika kedua alat tersebut yaitu kalkulator dan komputer tidak mungkin ada.
Begitu pentingnya matematika dalam kehidupan maka tidak aneh jika pembelajaran
matematika mengalami perkembangan dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Bagaimanakah perkembangan pembelajaran matematika di dalam negeri?
Matematika tradisional
Setelah
Indonesia terlepas dari penjajahan kolonial, pemerintah berbenah diri menyusun
program pendidikan. Matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran
wajib. Saat itu pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan
cara berhitung. Urutan-urutan materi seolah-olah telah menjadi konsensus
masyarakat. Karena seolah-olah sudah menjadi konsensus maka ketika urutan
dirubah sedikit saja protes dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk
pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan
membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan
yang selisihnya positif dan lain sebagainya.
Keistimewaan
lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa pembelajaran lebih
menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu
dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, lebih mengutamakan
kepada melatih otak bukan kegunaan, bahasa/istilah dan simbol yang digunakan
tidak jelas, urutan operasi harus diterima tanpa alasan, dan lain sebagainya.
Urutan
operasi hitung pada era pembelajaran matematika tradisional adalah kali, bagi,
tambah dan kurang. Maksudnya bila ada soal dengan menggunakan operasi hitung
maka perkalian harus didahulukan dimanapun letaknya baru kemudian pembagian,
penjumlahan dan pengurangan. Urutan operasi ini mulai tahun 1974 sudah tidak
dipandang kuat lagi banyak kasus yang dapat digunakan untuk menunjukkan
kelemahan urutan tersebut.
Contoh
12:3
jawabanya adalah 4
dengan tanpa
memberi tanda kurung , soal di atas ekuivalen dengan
9+3:3,
berdasar urutan operasi yaitu bagi dulu baru jumlah dan hasilnya adalah 10.
Perbedaan hasil inilah yang menjadi alasan bahwa urutan tersebut kurang kuat.
Sementara
itu cabang matematika yang diberikan di sekolah menengah pertama adalah aljabar
dan geometri bidang. Geometri ini diajarkan secara terpisah dengan geometri
ruang selama tiga tahun. Sedangkan yang diberikan di sekolah menengah atas
adalah aljabar, geometri ruang, goneometri, geometri lukis, dan sedikit
geometri analitik bidang. Geometri ruang tidak diajarkan serempak dengan
geometri ruang, geomerti lukis adalah ilmu yang kurang banyak diperlukan dalam
kehidupan sehingga menjadi abstrak dikalangan siswa.
Pembelajaran Matematika Modern
Pengajaran
matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975. Model
pembelajaran matematika modern ini muncul karena adanya kemajuan teknologi, di
Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan orang-orang yang mampu menangani
sejata, rudal dan roket sangat sedikit, mendorong munculnya pembaharuan
pembelajaran matematika. Selain itu penemuan-penemuan teori belajar mengajar
oleh J. Piaget, W Brownell, J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel,
R.M Gagne dan lain-lain semakin memperkuat arus perubahan model pembelajaran
matematika.
W Brownell
mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan
berpengertian. Teori ini sesuai dengan teori Gestalt yang muncul sekitar tahun
1930, dimana Gestalt menengaskan bahwa latihan hafal atau yang sering disebut
drill adalah sangat penting dalam pengajaran namun diterapkan setalah tertanam
pengertian pada siswa.
Dua hal
tersebut di atas memperngaruhi perkembangan pembelajaran matematika dalam
negeri, berbagai kelemahan seolah nampak jelas, pembelajaran kurang menekankan
pada pengertian, kurang adanya kontinuitas, kurang merangsang anak untuk ingin
tahu, dan lain sebagainya. Ditambah lagi masyarakat dihadapkan pada kemajuan
teknologi. Akhirnya Pemerintah merancang program pembelajaran yang dapat
menutupi kelemanahan-kelemahan tersebut, munculah kurikulum 1975 dimana
matematika saat itu mempnyai karakteristik sebagai berikut ;
- Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.
- Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.
- Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih kontinue
- Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur
- Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.
- Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
- Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru.
- Metode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.
- Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.
- SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar