Kamis, 29 Oktober 2015

Budaya, Makanan, dan Ciri Khas Kabupaten Nganjuk


BUDAYA


TARI MUNGDHE


.
Mung dhe merupakan salah satu seni tari yang berasal dari Desa Garu yang ada di Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sedikit cerita dari muncul tari ini. Kelahiran kesenian tari Mung Dhe ini terkait erat dengan ontran-ontran di Jawa Tengah pada awal abad ke-19, pada saat terjadinya peperangan Diponegoro (1923-1930). Perjuangan Pangeran Diponegoro saat melawan bangsa kolonial di Jawa Tengah waktu itu mendapat kegagalan. Pengikut Diponegoro terpecah belah dan menyebar di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Para prajurit yang masih tersisa berupaya menyusun kekuatan. Namun upaya itu tidak berani terang-terangan melainkan dengan cara berpura-pura menari dan mengamen berkeliling.
Dengan gerakan-gerakan yang khas yaitu menggambarkan gerakan perjuangan dengan latihan baris-berbaris dan adegan perang. Cara seperti ini mereka tempuh untuk mengelabuhi pasukan Belanda yang selalu mengikuti dan mengintai sisa-sisa prajurit Diponegoro berada dan usaha mereka ternyata berhasil dan tidak diketahui oleh pasukan Belanda dengan gerak-gerak yang memiliki makna dan simbol tertentu. Tari Mung Dhe memang sarat dengan nilai perjuangan dan bertemakan kepahlawanan dan cinta tanah air, heroik patriotisme.
Biasanya tari Mung Dhe melibatkan 14 pemain dengan masing-masing peran pada awalnya, yaitu :
2 orang berperan sebagi penari /prajurit. 
2 orang berperan sebagi pembawa bendera. 
2 orang berperan sebagai botoh (Pihak yang membantu dan memberi semangat)
8 orang berperan sebagai penabuh /pengiring.

Botohnya ada dua yaitu penthul untuk pihak yang menang dan tembem untuk pihak yang kalah. Sikap dan tingkah laku kedua botoh ini terlihat lucu, sehingga membuat orang yang menyaksikan tari Mung Dhe terkesan tegang karena yang berlatih perang memakai pedang,  dan kadang merasa geli karena botohnya lucu.
tetapi menurut pada perkembanganya ,sekarang hanya melibatkan 12 orang, yaitu 6 alat untuk 6 orang pemain.
Di dalam pengaturan organisasi tari Mung Dhe untuk penarinya adalah laki-laki serta perempuan dan dalam tingkatan usia dewasa (baik yang menikah atau yang belum).
Pada perkembangan sekarang ini, tari Mung Dhe sering ditampilkan pada acara-acara yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Nganjuk, seperti Pemilihan Duta Wisata, maupun Grebeg Suro, maupun Jamasan Pusaka, serta saat Upacara Wisuda Waranggono ( berasal dari desa ngrajek kec.tanjunganom ).




MAKAKAN
  • Nasi becek, sejenis gulai kambing yang memiliki rasa khas dengan penambahan irisan daun jeruk nipis.
  • Dumbleg, sejenis dodol yang terbuat dari ketan. Makanan ini hanya ada pada hari-hari tertentu di Pasar Gondang (tiap Pasaran Pon) dan Pasar Rejoso (tiap pasaran kliwon).
  • Onde-onde Njeblos, semacam onde-onde tapi tidak berisi. Berbentuk seperti bola yang ditaburi wijen.
  • Nasi Pecel: menu nasi dengan sayur (kulup) kangkung, toge, kacang panjang, kembang turi dll disiram dengan kuah sambal kacang dengan ciri khas pedas dan disertai tempe, tahu goreng serta rempeyek yang renyah.
  • Nasi Tumpang, seperti halnya nasi pecel namun ada menu tambahan berupa sayur (sambal) tumpang, yg terbuat dari tempe "busuk" (tempe difermentasikan) yang dimasak dengan bumbu lain yang rasanya gurih dan pedas.
  • Krupuk Upil, adalah krupuk kecil yang digoreng tanpa minyak tetapi menggunakan pasir
  • Tepo Mbah Umbruk,Seperti lontong bungkusnya dari daun pisang bentuknya kerucut dan agak miring . dan sayurnya kacang panjang tapi di ambil isinya atau disebut kacang tolo.dan bumbu dan bahan bahan lain .dan sampai saat inipun bisa dinikmati.
  • krupuk pecel adalah krupuk bakar yang dicampur dengan sayuran,yang terdiri dari capar (toge), bayam,bung (rebung), kenikir, mbayung (daun kacang) dan kacang panjang.yang kemudian di siram dengan bumbu pecel dan minumnya adalah es rujak.
SUMBER

CIRI KHAS


Mengenal nganjuk
Kabupaten Nganjuk terletak di lereng Utara Pegunungan Wilis dan menjadi salah satu dari keempat puncak pegunungan Wilis yang terbentang di Kediri, Ponorogo dan Tulungagung. Nganjuk terletak  11105'-112013' BT dan 7020'-7059' LS dengan  luas ± 122.433 Km2, yang terdiri dari dataran rendah dan pegunungan

Nganjuk Kota Angin
Nganjuk dijuluki sebagai kota angin, karena hembusan angin yang melewati kota cukup kencang. Hal ini disebabkan letak geografis Nganjuk yang diapit oleh 2 gunung, yaitu gunung wilis dan gunung Kendheng.

Slogan Nganjuk Jaya
Nganjuk jaya merupakan Slogan penyemangat bagi warga Nganjuk, diartikan sebagai “Nganjuk bekerja dan berkarya”. Nganjuk Jaya sebagai bentuk komitmen harkat dan martabat diri dalam pengabdian masyarakat.

Nganjuk Negeri Air terjun
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ5QYIBdYlaLKNyR6Yc-HkQyTDcrqDKLU4IUjur11TDHWrIkh2gXZ7MdcbP
Pegunungan Wilis yang memiliki banyak sumber air berupa air terjun sejak lama tersohor dengan daya tarik wisata air terjunnya. Oleh karena itu Gunung yang menyimpan beragam situs purbakala ini, di sebut sebagai gunung dengan 1000 air terjun. Uniknya, Nganjuk mengemas wisata air terjun dalam beraneka jenis dan atraksi wisata. Air terjun Sedudo, Jamasan Pusaka, Siraman sedudo dan wisuda waranggono merupakan sebuah harmoni wisata alam sekaligus atraksi seni budaya yang dirayakan 1 Suro (penanggalan jawa untuk tahun baru Islam).
Pemandangan Air Terjun nan elok disambut kesejukan hawa pegunungan Wilis, berpadu padan dengan kemolekan penari – penari Tayub pada upacara Siraman Sedudo, menjadi harmoni nan indah di Nganjuk, Negeri air terjun!


SUMBER




Tidak ada komentar:

Posting Komentar